Arema Cronus Indonesia Malang, Jawa Timur yang bakal mengarungi turnamen jangka panjang Indonesian Soccer Championship (ISC) tanpa launching atau perkenalan kepada publik seperti saat tim itu mengikuti kompetisi Liga Super Indonesia (LSI).
Peluncuran tim yang biasanya dilakukan dengan meriah, bahkan diramaikan oleh sejumlah artis ibu kota, tahun ini hanya ditandai doa bersama dengan mengundang 50 anak yatim dari Ponpes Al Hidayah Donomulyo, Kabupaten Malang, di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (29/4/2016)
"Kami melakukan doa bersama untuk memohon dukungan bagi perjuangan tim Arema di ISC nanti. Doa bersama anak yatim ini juga sebagai salah satu prosesi akhir persiapan tim sebelum mengikuti kompetisi ISC selama satu musim," ujar Media Officer Arema, Sudarmaji di sela doa bersama di Stadion Kanjuruhan Kepanjen.
Alasan tidak adanya perkenalan tim kepada publik, katanya, Arema selama ini selalu aktif dan tidak pernah vakum ataupun bubar meski kompetisi terhenti. Selain itu, tim berjuluk Singo Edan itu juga selalu memperkenalkan ke publik jika ada pemain baru, sehingga acara launching tidak perlu dilakukan.
Ia mengaku pihaknya lebih memilih menggelar doa bersama anak yatim dan acara tumpengan untuk mendukung tim Arema. Semoga dengan demikian perjalanan Arema ke depannya lancar dan mampu meraih prestasi lebih baik lagi.
Lebih lanjut, Sudarmaji menjelaskan pada awalnya, acara ini akan digelar di Kantor Arema. Namun, rencana tersebut dibatalkan karena tim ingin melakukan uji coba lapangan setelah menggelar acara doa bersama. Oleh karena itu, tempat acara doa bersama pun dipindah ke Stadion Kanjuruhan.
Sementara itu, General Manajer Arema, Ruddy Widodo acara doa bersama itu merupakan syukuran atas digelarnya kompetisi yang dimulai malam ini (Jumat, 29/4). Acara doa bersama tersebut sekaligus untuk kesuksesan tim.
Ruddy menyatakan menjelang kompetisi ini, Arema tak ingin melakukan launching besar-besaran seperti sebelum-sebelumnya, karena Arema sudah dikenal publik dan selalu memperkenalkan anggota barunya kepada masyarakt. Oleh karena itu, pihak manajemen pun lebih memilih menggelar doa bersama untuk tim dan kompetisi.
Selain itu, katanya, alasan lainnya adalah saat ini sepak bola Indonesia sedang menjalani hukuman dari FIFA, sehingga kompetisi ini masih belum jelas arahnya. Sebab, meski juara dalam kompetisi ini belum tentu bisa mewakili Indonesia ke level Asia.
"Kompetisi ini masih belum jelas arahnya, jadi dalam doa kami ini, kami berharap sepak bola di Tanah Air bisa kembali membaik," kata Ruddy.
Setelah memanjatkan doa, tim Arema melanjutkan acara dengan prosesi potong tumpeng. Pada prosesi ini, Ruddy Widodo menyerahkan potongan pertama pada pelatih Milomir Seslija, sebagai simbol agar tim bisa semangat dan kembali meraih juara dalam musim ini.
Usai rangkaian acara doa bersama, manajemen Arema memberikan santunan kepada 50 anak yatim berupa uang saku dan tas sekolah. Selanjutnya, para pemain melakukan persiapan uji coba lapangan untuk menghadapi Persiba Balikpapan, Minggu (1/5).
Sumber: RimaNews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar